“Eh, itu lho, Ul! Itu! Baju batik!” Kata teman ku yang
tiba – tiba menunjukkan jarinya yang baru saja dia gunakan untuk mengupil ke
suatu arah.
“Mana sih? Nggak ada yang pake baju batik ah!” Sangkal ku
sambil mencari anak yang memakai baju batik.
“Itu! Itu adiknya mas Lafif yang pakai batik! Lihat
nggak?! Hey lihat! Lihat nggak lihat nggak?!” Kata teman ku menggebu.
“Iya, iya lihat” Jawab ku melongo melihat kakak kelas
yang ditunjuk oleh temanku itu. “Eh, cakep..” Kataku sambil tersenyum.
“Iya, makanya, aku pengen beli!” Kata dia sambil jingkrak
– jingkrak nggak karuan. Beli? Dia mau beli orang?
“Ha? Kamu mau beli?” Tanya ku kemudian.
“Iya, aku pengen beli!”
“Lihat deh! Coraknya bagus! Abstrak tapi teratur.” Corak?
Abstrak?
“Dikata batik, abstrak?! Orang cakep gitu! Lagian, mana
ada abstrak tapi teratur!” Kata ku kesal.
“Iya, emang batik. Batik yang di pakai sama adiknya mas
Lafif! Kamu kira apa?” Jawab dia sambil terus memandangi ( baju batik ) adik
mas Lafif tadi. Aku cuma tersenyum kecut sambil ngedumel sendiri.
Itu tadi sepenggal cerita waktu pertama kali tahu tentang
seseorang yang akhirnya jadi gebetan ku yang pertama kali. Namanya Affan. Namanya
, lengkapnya Affantar The Legend of Aang (Itu Avatar woy!). Itu julukan ku
untuknya. Affan kakak kelas aku waktu SMA. Menurutku, Affan ini anaknya,
pinter, pendiem, cakep, cuek, agak sedikit pendek dibanding aku. Dia punya
kakak cowok. Dia juga punya adik, cewek. Dia punya orang tua. Dia lahir dan
menetap di Magelang. Dia.. bentar – bentar ini kenapa malah ngomongin hal nggak
penting gini?
Aku tak tahu pasti kapan perasaan ini muncul. Hanya saja
kita sering bareng. Ikut organisasi yang sama, ikut lomba juga sama. Dan tanpa
sengaja, mata aku selalu terarah untuk Affan. Jangan tanya kenapa, karena aku
juga nggak tau. Tapi suatu hari teman ku bilang.
“Kamu suka tuh sama Affan!”
Suka? Maksudnya? Aku tak paham. Aku tidak tahu. Aku belum
pernah merasakan semua ini. Tapi aku pernah dengar, kalau suka itu bisa jadi
cinta. Iya kah? Entahlah. Aku juga masih baru dalam hal ini. Cinta pun aku juga
tak tau.
Tapi perasaan suka aku ke Affan ini tidak aku ceritakan
ke sembarang orang. Tak tahu kenapa, aku malu untuk cerita ke teman – temanku. Padahal,
aku bukanlah seorang pemalu. Aku hanya berani cerita sama teman – teman yang
aku percaya. Tapi, namanya juga orang, pasti bisa khilaf. Suatu hari semua itu
terbongkar dan sampai ke telinga Affan dan (bisa dibilang) pacarnya. Ya, Affan
ternyata mempunyai seorang pacar.
Aneh. Ada perasaan tak rela yang tiba – tiba datang. Ah,
perasaan apa ini. Aku sangat tidak nyaman dengan semua ini! Aku ingin membuang
semua perasaan ini. Aku benar – benar tidak suka!
Sampai akhirnya aku dengar, Affan putus.
Senang. Ya, ada rasa senang yang muncul. Tapi kenapa?
Kenapa aku harus senang diatas penderitaan mereka? Bukankah itu buruk? Tapi aku
benar – benar merasa senang. Senang sekali.
Sampai suatu saat, aku mempunyai nomor handphone Affan.
Kita mulai ber SMS dan bercerita tentang banyak hal. Tapi Affan lebih banyak
bercerita tentang seseorang yang pernah ada di hidupnya dan mengisi hari –
harinya.
Aku benar – benar benci ketika dia menceritakan semua
itu. Sampai akhirnya, aku beranikan diri untuk mengatakan perasaanku padanya.
Meskipun hanya lewat SMS. Ya, aku mulai belajar dan mulai merasakan sebuah
cinta. Mungkin.
“Kak, tau nggak sih? Kalau selama ini aku suka sama
kamu?”
“Iya, aku tau. Kamu suka sama aku.”
“Terus?”
“Aku masih belum bisa. Kamu tau kan?”
“Iya.”
“Kamu marah?”
“Enggak.”

